Kamis, 19 Desember 2019
Manajemen Keuangan
Manajemen Sumber Daya Manusia (MSDM)
Manajemen Pemasaran
Jumat, 04 Oktober 2019
Wakil Rakyat?
Video yang akhir-akhir ini beredar di Instagram mengenai seorang anggota dewan dari dapil Papua Barat yang menangis di sidang MPR membuat hati saya bergetar. Perkataan yang keluar dari mulut Bapak Jimmy (Ya dia-lah bapak Jimmy Demianus yang merupakan penyambung lidah rakyat Papua) bagi saya sangat tulus sekali. Semua kata yang ia keluarkan seakan-akan menggambarkan keadaan di Papua yang sebenarnya. Meskipun saya bukan rakyat Papua dan tidak tahu situasi disana dengan kata-kata dan ratapan matanya saja sudah bisa saya gambarkan dengan jelas apa yang sebenarnya terjadi disana.
Disamping rasa simpati saya, saya juga merasa miris dengan Bapak dan Ibu dewan disana yang hanya cengar-cengir melihat tangisan Bapak Jimmy. Sekeras apakah hati nurani mereka hingga masih bisa tertawa melihat hal seperti itu. Melihat tangisan tulus saja hati mereka tidak tergubris apalagi melihat demo yang dilakukan mahasiswa kemarin.
Negara ini sudah darurat! Wakil rakyatnya keparat, pemerintahnya kaku layaknya paku berkarat, dan rakyat dibiarkan tetap melarat. Apakah ini negara yang dicita-citakan Bung Karno, Bung Hatta, dan para pejuang? Mungkin mereka di akhirat akan menangis melihat negara yang telah mereka perjuangankan dengan darah perjuangan mereka, nasibnya seperti sekarang. Dan mungkin saja Pak Harto akan tersenyum di akhirat melihat generasi yang berhasil meruntuhkan kekuasaannya ternyata tidak lebih baik dari dirinya bahkan lebih buruk dan hanya menjadi badut-badut senayan.
Bila kelak kalian melihat banyak rakyat yang kehilangan rasa bangga dan optimisnya terhadap negara, tolong jangan terkejut.
Bila ini terus berlanjut, entah berapa lama lagi Indonesiaku akan bertahan. Miris! Miris sekali!
Review seminar "How to Write a Great Manuscript and Get It Accepted by A Good Journal" oleh Profesor Christopher Gan
Hallo, perkenalkan sebelumnya nama saya Akbar Ramadhan. Saya adalah mahasiswa Universitas Airlangga jurusan Ekonomi Pembangunan.
Tadi saya baru saja menghadiri acara seminar yang bertema "How to Write a Great Manuscript and Get it Accepted by A Good Journal". Seminar ini kurang lebih membahas mengenai bagaimana sih cara membuat jurnal yang baik. Pembicara dalam seminar ini yaitu Profesor Christopher Gan. Siapa sih beliau? Beliau adalah profesor dari Lincoln University, Selandia Baru. Wah, tidak main-main ya pembicaranya!
Tanpa berlama-lama, saya akan memberikan review dari seminar tadi.
Prof. Gan tadi menjelaskan bahwa dalam membuat suatu jurnal, kita harus menjunjung tinggi originalitas. Maksudnya, kita tidak boleh sekadar copy-paste. Kita harus banyak menggali berbagai literatur. Lalu, buatlah sesuatu yang baru atau sebuah inovasi yang berguna bagi ilmu pengetahuan. Jadi, jangan biasa-biasa saja.
Jangan terlalu ambisius. Maksudnya jangan terlalu banyak memasukan problem statement, setidaknya tiga saja cukup. Jadikanlah jurnalmu sebagai sebuah objek yang bernilai jual. Buatlah jurnal yang beda dari yang lain. Jangan hanya menjual data-data atau statistik tetapi tambahlah dengan sesuatu yang membedakan jurnalmu dengan jurnal-jurnal yang lain.
Jangan lupa, di dalam jurnal dibutuhkan pembuktian. Maka dari itu, sebelum menulis jurnal, cobalah membuat perbandingkan data-data atau membuat riset. Caranya bagaimana? Caranya yaitu terjun langsung ke lapangan.
Metode yang digunakan harus berdasarkan teori yang kita pakai. Bila diibaratkan misalnya, jika kita mau membuat makanan yang bernutrisi, maka metode yang baik dalam membuatnya yaitu dengan mengukusnya karena metode ini membuat nutrisi di dalam makanan tetap terjaga.
Buatlah pembaca terkesan dengan tulisan kita. Maka dari itu, perhatikanlah penyajian tulisan. Dalam mempresentasikan jurnal pun kita dituntut untuk memiliki kemampuan bahasa yang baik sehingga orang menjadi terkesan dengan tulisan kita.
Dalam membuat kesimpulan, kita harus mengakui kekurangan kita dan memberitahu limit yang kita bahas. Buatlah jurnal yang bermanfaat untuk orang lain sehingga karya kita tidak hanya menjadi pajangan semata.
Penulisan juga harus diperhatikan. Bila sedari awal menggunakan bahasa Inggris versi Amerika, maka hingga akhir kita harus tetap menggunakan bahasa Inggris versi Amerika.
Jangan lupakan abstrak. Abstrak adalah bagian terpenting dalam jurnal. Bagian ini adalah bagian yang pertama diperhatikan oleh pembaca.
Abstrak sendiri terdiri kurang dari 350 kata dan mencakup problem statement, metode, serta hasil.
Sekian review dari saya. Berbagai hal yang telah saya sampaikan adalah garis besar dari materi yang telah disampaikan oleh Profesor Christopher Gan dalam seminar.
Terima kasih dan semoga bermanfaat.