Jumat, 20 Maret 2020

Gak Ngopi, Gengsi Dong

Siang tadi, aku kebetulan diajak teman-temanku di salah satu coffe shop di Surabaya. Dalam hatiku sebelum berangkat berkata, "uangku saja hanya sisa dua lembar sepuluh ribuan, hadehh". Tetapi karena ada rasa gengsi di dalam hati ini, maka ku paksakan saja untuk ikut teman-teman.

Berangkatlah aku ke coffe shop itu dengan membonceng motor temanku, anggap saja Rudi namanya. Tempat itu sebenarnya tak begitu jauh sebenarnya. Namun karena ditawari, kenapa aku mesti menolak.

Tak butuh waktu lama, aku pun tiba di coffe shop. Kebetulan hanya kita berdua yang baru datang. Aku dan Rudi pun menunggu temen-teman yang lain di luar. Kita sengaja duduk di luar karena takut akan diusir secara halus oleh pelayannya. Aku trauma, karena aku pernah diusir oleh pelayan di salah satu kafe karena saya hanya duduk tanpa membeli apapun. Meskipun diusir secara halus, tetapi tetap saja tidak mengenakan.

Beberapa menit berselang, teman-temanku yang lain pun tiba. Tanpa berbasa-basi, kami pun langsung membuka pintu coffe shop. Huh, wangi aroma kopi menusuk hidungku. Tetapi, wangi ini tidak membuyarkan perhatianku pada menu kopi yang tersedia. Aku melihat dengan gaya dingin khas lelaki cool. Lalu alangkah kagetnya aku, mengetahui bahwa harga kopi dan minuman lain disini rata-rata Rp 15000. Mungkin uang yang aku pegang ini cukup, tetapi nantinya tidak ada cukup uang yang bisa saya gunakan untuk membeli makan. Aku pun pura-pura duduk dahulu untuk berpikir sembari membuka-buka handphone. Belum lama aku berpikir, Rudi bertanya dengan suara yang agak keras tetapi bukan emosi, "Kamu gak beli?". Dengan suaranya yang agak keras, aku pun terpaksa menjawab "Iya duluan aja". Kata-kata ini setidaknya bisa membuat harga diriku di depan pelayan coffe shop dan teman-temanku masih terjaga dengan baik. Kemudian, aku terbangun dari duduku, dan kembali melihat daftar menu, dan perhatianku jatuh kepada minuman bernama espresso. Aku tidak tahu bagaimana bentuk dan rasanya, tapi yang kulihat hanyalah harganya, yaitu Rp 10.000. Dengan harga sebesar itu, menyisakan uang sebesar Rp 10.000 di dompetku yang masih bisa untuk membeli makan nanti.

Singkat cerita, minuman sudah dibuat oleh pelayan. Miniman pun disediakan di atas meja dan kami tidak ada yang tahu mana minuman yang telah kami pesan, karena kami buta minuman kopi. Karena ketidaktahuan ku, aku bertanya kepada pelayan, "Mas, espresso yang mana ya?". Pelayan pun menunjukkan kepada saya bentuk dari minuman yang aku pesan. Alangkah kagetnya aku, minuman yang saya pesan ternyata hanya berukuran gelas mungil, bahkan punyaku lah yang paling mungil dari semua minuman yang dipesan oleh teman-temanku. Aku pun berkata dalam hati "Jancuk, rugi aku rek".

Tidak ada komentar:

Posting Komentar